"Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? …" (QS. Asy-Syuuraa: 21).
Senada dengan tuduhan "menambah-nambahi agama", ayat ini digunakan oleh kaum Salafi & Wahabi untuk menuduh pelaku Maulid, tahlilan, zikir berjama'ah, tawassul, ziarah kubur orang shaleh, dan lain-lainnya sebagai "pembuat syari'at" yang "tidak diizinkan Allah".
Ada tiga hal yang semestinya mereka sadari tentang tuduhan
tersebut:
a. Para ulama tidak pernah menganggap bahwa amalan-amalan
tersebut sebagai bagian dari ibadah mahdhah atau syari'at kecuali bila
benar-benar ada dalil yang menunjukkannya, melainkan hanya sebagai adat atau
kebiasaan baik yang mengandung maslahat. Di sinilah pangkalnya kenapa kaum
Salafi & Wahabi menuduh demikian, karena mereka selalu menganggap amalan
"berbau agama" sebagai "ibadah", di mana ibadah tidak boleh dilakukan kecuali
bila ada dalil yang memerintahkannya.
b. Ayat di atas jelas-jelas menyebut "sembahan-sembahan
selain Allah" yang menunjukkan adanya indikasi "syirik", dan memang
ayat ini ditujukan oleh Allah untuk orang-orang musyrik Jahiliyah
penyembah berhala yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan
mengharamkan apa yang dihalalkan Allah.
Adalah sangat keterlaluan bila para ulama dan umat Islam yang melakukan amalan seperti Maulid, tahlilan, dan lain sebagainya dituduh mempunyai "sembahan-sembahan selain Allah" yang telah mensyari'atkan kepada mereka amalan-amalan tersebut. Bagaimana mungkin kaum Salafi & Wahabi ini bisa dengan seenaknya menuduh saudaranya yang muslim sebagai orang-orang musyrik yang tidak mau menerima syari'at Allah lalu malah mengambil syari'at tuhan selain Allah, padahal mereka jelas-jelas mendirikan shalat, berpuasa Ramadhan, membayar zakat, dan menunaikan ibadah haji?
c. Kaum Salafi & Wahabi juga menuduh amalan-amalan tersebut
sebagai amalan "yang tidak diizinkan Allah". Pertanyaannya, dari mana
mereka tahu bahwa amalan tersebut tidak diizinkan Allah, padahal ayat itu tidak
menyebut perincian jenis atau macamnya? Tidak cukupkah mereka menipu umat dengan
mengatasnamakan tuduhan mereka dengan firman Allah? Sungguh
terlalu! Lagipula, para ulama tafsir sudah menjelaskan, bahwa "yang tidak
diizinkan Allah" itu maksudnya adalah syirik (menyembah berhala atau
menyembah selain Allah), mengingkari pembangkitan di hari Kiamat, atau
keyakinan-keyakinan Jahiliyah lainnya.
Tag :
WAHABI
0 Komentar untuk "JANGAN MEMBUAT SYARIAT BARU!"